Sabtu, 20 Agustus 2011

Sudahkah Merdeka Budaya Kita?

Hampir pasti kita tak pernah bertanya, apa arti dan gunanya sekolah. Sudah pasti pula tak terbersit di benak kita. Bahkan kita tak pernah bertanya pada diri sendiri : mengapa lidah dan mulut kita lebih suka dan merasa lebih terhormat - mengunyah beef burger, hotdog dan fried chiken ketimbang menyantap nasi pecel, soto, opor, sate ataupun rendang.

Sekolah, beef burger, hotdog dan friedchiken rupanya telah diyakini sebagai dan terbakukan menjadi simbol simbol kemajuan atau kemoderenan. Kita seolah didera harus sekolah harus pula gaul barat, tanpa keduanya kita dianggap atau merasa diri sebagai terbelakang. Begitu juga kalau kita gagap menyantap fried chiken, beef burger, dan hotdog seolah sebagai kampungan, ketinggalan jaman dan ndeso.

Tetapi, siapa yang salah ketika milik kita menjadi sesuatu yang asing, tertinggal, katrok dan seakan terlupakan, tiba tiba muncul dihadapan kita, hadir atas nama kebudayaan negeri tetangga. Risih dan geram mendengarnya!! Kebudayaan yang kita miliki, diam-diam diakui sebagai budaya negara tetangga, tapi mengapa kita harus marah?Bukankah hilangnya budaya karena ketidakmampuan kita melestarikan. 

Getir memang kenyataan itu. Apa mau dikata, sebutan sebagai bangsa yang ramah dan mudah adaptasi rupanya menggiring kita untuk selalu mengadopsi saat berhadapan dengan hal baru, modern dan berbau barat. Lupakan suratan bahwa kita memang ditakdirkan begitu. Bukankah ini tak lepas dari kehendak dan ulah  manusianya sendiri yang tidak dapat mengexplorasi budayanya sendiri.  

Itu semua merefleksi, masihkah kita berbangga dengan cap kaya keragaman budaya sebagai konsumen, bukan produsen? Apakah ini yang dimaksud dengan Merdeka? Bukankah ciri kemerdekaan adalah menjadi diri sendiri? Jawabannya ada pada pribadi masing masing!!

8 komentar:

  1. aku tetap bangga dg negri sendiri
    walau budaya banyak yg lumm dikennel di luar negri
    namun ga sedikit yg tahu Indonesia
    contohnya mi instan rasa soto ayam, rasa sambel pecel dan terasi dah dikenal di luar negri, banyak juga yg bilang wah sate nya enak, ah masih banyak lgi hehehehe

    BalasHapus
  2. berat banget yah :)
    tapi memang kita sudah merdeka, secara lahir
    namun tak untuk secara batin :)

    BalasHapus
  3. bakso..., gado-gado.., nasi goreng...enak...

    ingat presiden Amrik aja inget dengan makanan Indonesia dan bangga, lha kok kita lebih bangga dengan produk mereka ya kang apalagi produk CN, welwh...permen aja dibuat tiruan gak peduli akibatnya buat anak bangsa kita.

    I LOVE INDONESIA...terutama Rujak uleg hehe...

    BalasHapus
  4. suka sama mpek2,masih budaya sini dong :)

    BalasHapus
  5. setuju bgt sama mas coro, orang indonesia terasa sekali terdoktrin dan meyakini bahwa segala sesuatu yg berbau barat adalah hal yg keren, maju dan patut menjadi panutan semua orang. salam kenal mas coro ;)

    BalasHapus
  6. hayooo.. jadi bahan introspeksi nii mlm minggu gini :(

    belajar photoshop

    BalasHapus
  7. kalo aku malah kebalikane mas..hehehe..pizza buatku sangat asing di lidah..berusaha untuk selalu mencintai apa yang telah budaya kita wariskan..sederhana saja caranya..salah satunya misalnya daengan menggunakan baju batik... :)

    selamat menyambut hari nan fitri ya mas...mohon maaf lahir dan batin...

    BalasHapus
  8. artikel masukan utk merenung sejenak. trims mas .coro.

    BalasHapus